Ingin Rekognisi Global, Ditjen Pendis Siapkan Lembaga Pengembangan Talenta

Serpong (19/9)– Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Islam sedang mempersiapkan lembaga atau pusat pengembangan prestasi atau talenta yang establish melalui berbagai event kompetisi nasional, seperti Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE), Pekan Olahraga dan Seni, Nasional (PESONA) di jenjang PTKIN, dan juga di level madrasah seperti Kompetisi Sains Madrasah (KSM), (Madrasah Young Research and Science (Myres), dan lain-lain.

Ditektur Jenderal Pendidikan Islam, M Ali Ramdhani, menekankan bahwa PTKIN selain melahirkan para pemikir di bidang Islamic Studies, juga harus mampu membentuk talenta-talenta bidang sains yang berkaliber nasional, bahkan global. Pelaksanaan event-event besar berskala nasional bidang riset dan inovasi sains di PTKIN harus dipastikan muncul insan-insan berprestasi yang kelak menjadi bintang di kemudian hari.

“Event sekaliber OASE yabg rutin diselenggarakan Direktorat Diktis harus dikelola secara profesional, sehingga melahirkan talent-talent yang hebat. PTKIN dapat menilik pelaksanaan KSM yang diselenggarakan level madrasah, betapa anak-anak itu sangat hebat. Mereka mampu meciptakan inovasi sains yang menakjubkan. PTKIN harusnya bisa lebih hebat dari mereka” tandas Kang Dhani, panggilan akrabnya.

Lebih lanjut Kang Dhani berpesan agar PTKIN juga lebih tanggap terhadap talent-talent hebat yang dihasilkan dari KSM agar mereka mendapat tempat yang istimewa di kampus PTKIN.

“Para talent hasil pelaksanaan KSM justru mendapat golden ticket kuliah di PTN Umum. Sementara PTKIN kurang peduli terhadap mereka yang sebenarnya aset yang sangat bagus buat Kementerian Agama, khususnya PTKIN”, imbuhnya.

Sementara itu Direktur DIKTIS, Ahmad Zainul Hamdi, atau biasa dipanggil Inung menyampaikan bahwa pihaknya ingin membentuk pusat prestasi PTKIN ini karena tiga alasan. Pertama, setiap event selalu mengundang bias tuan rumah atau penyelenggara. Kedua, munculnya protes saat pelaksanaan, dan Ketiga, saat selesai event, muncul cacian.

“Saya tidak ingin pelaksanaan seperti OASE selalu diliputi tiga masalah, setiap event selalu mengundang bias tuan rumah atau penyelenggara, munculnya protes saat pelaksanaan, dan saat selesai event, selalu ada cacian. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan karena tidak akan menghasilkan talent-talent terbaik”, jelasnya.

Ada lagi catatannya, bahwa setiap kali perhelatan, seakan-akan harus bekerja dari nol. Menurutnya, ini satu cara kerja tidak terinstitusionalisasi, dan harus diubah.

“Setiap event seakan-akan kita kerja dari nol, padahal diselenggaran rutin. Ini menunjukkan kerja-kerja amatir yang harus diperbaiki, karena menunjukkan cara kerja yang tidak terinstitusionalisasi”, katanya.

Pihak ingin hasil-hasil event kompetisi nasional PTKIN, atau bahkan Pendidikan Islam pada umumnya dapat direkognisi secara nasional maupun global. Hasil kompetisi perlu diglorifikasi media sehingga mendapat apresiasi dari khalayak. Karena para juara yang lahir dari proses terbaik yang menjadi sistem talent terbaik, akan melahirkan hasil yang terbaik.

“Talent-talent terbaik perlu mendapat pembinaan secara baik, spt mendapat besiswa BIB atau peluang pemgembangan lain. Karena itu perlu inovasi, dengan membentuk lembaga prestasi yang kredibel dan kuat sepertu yang sudah mapan di Kemendikbud” tutupnya.

Pada saat yang sama, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama, Thobib Al Asyhar, yang ditunjuk sebagai PIC pembentukan lembaga prestasi siap melaksanakan agenda ini. Bahkan menurutnya, lembaga prestasi nantinya harus menjadi payung umum di Kemenag, minimal di level Ditjen Pendis, sehingga seluruh event nasional dapat dikelola dengan baik.

Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan, Shoib Nur, mendorong agar pembentukan lembaga prestasi ini dapat segera diwujudkan agar dapat menghandle pelaksanaan OASE tahun depan.