Kobong Digital “Pandito” Wa Aziz

Foto: Kobong Wa Aziz

Oleh Syafaat Mohamad

Suatu siang, selepas zuhur, dua-tiga kobong pondok yang berada tepat di atas ruang tamu sang pemilik rumah, penuh dengan puluhan santri yang sedang asyik bersenandung riang sembari melafalkan tasrif dan nadzhaman. Sebuah metode talaran (hapalan) antik nan efektif yang mengiringi perjalanan tradisi keilmuan kepesantrenan selama berbabak-berbabak dan bahkan mungkin berabad-abad senafas dalam sejarah panjang berdirinya nusantara sebagai tanah air.

Ritual siang yang mengasyikkan saat itu tentu saja tidak hanya berlaku di kobong belajar milik Wa Aziz sang Kiai, namun juga berjalan lazim pada sekian ratus kobong belajar lainnya di luar Pondok Pesantren Nurul Huda, Sengkahan. Dari seluruh penjuru Kuningan, dapat didaftar sederet pesantren lain, seperti Pesantren Raudlatut Thalibin dan Al-Idrus Lengkong, Pesantren Al-Abshori dan Darul Ulum Karang Tawang, Pesantren Al-Kautsar Cilimus, Pesantren Al-Anwar dan Pesantren Al-Makmur Kadugede, Pesantren Riyadul Huda Winduhaji, Pesantren  Bani Sanjur Karangkancana, Pesantren Bani Syahir dan Al-Amin Cibingbin, Pesantren Mambaúl Ulum Silebu, Pesantren Raudlatul Mubtadiín Jagasara Cidahu, Pesantren Manbaúl Huda Sidaraja, Pesantren Nurul Ihsan Subang, serta pondok salaf lainnya yang ghalib menjadikan Kitab Kuning sebagai basis kekuatan keilmuan.

Keberadaan Pesantren yang diasuh oleh Wa Aziz, adalah sedikit di antara indigenous institution (wadah aseli) tanah air yang hingga sekarang secara panceg berdiri tegak dengan model penerapan praktik longlife education (taman pendidikan abadi), dengan sosok Kiai dan Santri sebagai simbol penggerak, serta kedudukan masjid atau tajug, kobong dan kitab sebagai basis gerakan.

Sematan-sematan seperti kiai atau santri, masjid atau kobong, bandongan atau sorogan, bagi Wa Aziz  dan umumnya mereka yang mengabdikan diri di jalan sunyi tersebut adalah laqob dan status yang sangat otentik, dimana pengalaman maupun penerimaan nilai yang didapatkan tidak akan pernah dapat dipertukar-gantikan oleh kedudukan simbol-simbol atau pengalaman material apapun.

Panto Ujian dan Falsafah Wali Wa Aziz

Akhir-akhir ini di Kabupaten Kuningan tempat Wa Aziz bermukim sejak tahun 1982 silam, sebuah daerah yang pernah dikenal dengan akar sejarah kepesantrenan tertua di Jawa Barat, yaitu dengan adanya Pesantren Ciwedus Timbang (1831 M) bersama Mamah Eyang Shobari sebagai pituin, kian menghadapi tantangan berat, yang diantaranya adalah dalam mempertahankan eksistensi kepesantrenan.

Sekilas cerita, masa Pesantren Ciwedus pada akhir abad 19 tersebut, jika merujuk ke riwayat lisan yang didapatkan melalui jaburan kapasantrenan, Kuningan kala itu sempat menorehkan diri menjadi kiblat dunia para santri di Barat Jawa. Jika pada masa Uwa Aziz di tahun 1980-an (akhir abad 20) adalah generasi ketiga masa transformasi persilangan poros Kuningan – Ciamis dan Tasikmalayaan (Sukamanah Sukahideung, Suryalaya, Cipasung, Manonjaya), serta dalam perjalanan satu abad sebelumnya adalah masa tonggak persilangan poros Kuningan – Cirebon (Buntet, Benda Kerep, Babakan Ciwaringin), maka tren persilangan pada masa Pesantren Ciwedus itu adalah tidak hanya meliputi dua aras besar tersebut melainkan melanglang jauh hingga poros Karawang bahkan Cianjuran. Sungguh semacam goresan tinta emas yang tidak ternilai kadarnya untuk tropi tertinggi dalam memaknai arti luhung sebuah pengabdian.

Namun lagi-lagi, peristiwa besar hanyalah sekadar peristiwa besar.

Kini beranjak jauh dalam hitungan masa kiwari, setidaknya sejak tahun 2000-an silam, tak dinyana telah terjadi perubahan yang cukup signifikan terkait penurunan angka warisan dari keberadaan pesantren di Kabupaten Kuningan. Angka pondok pesantren yang semula berjumlah kisaran 400-an yang merupakan buah manis dari estafet berabad-abad sebelumnya di tanah Kuningan, hingga dilakukan pendataan intensif oleh Kemenag Kuningan sejak tahun 2012 hingga 2016 terjadi penurunan hingga angka 200-an. Fenomena bergesernya angka kuantitatif tersebut, secara tidak mustahil akan turut memengaruhi sisinya yang lain, yaitu aspek kualitatif dari pondok pesantren.

Membalik lembaran hasil riset Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) pada 2010 di level nasional misalnya menunjukkan bahwa jumlah kitab kuning yang diajarkan para kiai di pondok pesantren rata-rata saat ini hanya 9-13 dari puluhan hingga ratusan kitab kuning yang semula rutin dijadikan pegangan. Sungguh dua data faktual di atas, sangat patut dijadikan tanbih dan perhatian.

Adalah benar bahwa Pondok Pesantren sebagai sebuah wadah penggemblengan yang telah berusia ratusan tahun hingga saat ini masih tampak terus tegak berdiri, berlari melewati babak-babak pergerakan yang sangat panjang, bahkan sejak zaman kerajaan nusantara, pemberontakan pribumi hingga era revolusi kemerdekaan.

Namun pada akhirnya dapat dimafhumi bersama bahwa kedudukan pesantren sampai memasuki era baru revolusi industri kiwari niscaya makin menghadapi tantangan perubahan sosial yang tak cukup mudah, tak mengenal ujung serta bahkan mustahil untuk dihindari. Dan jika merujuk semata pada dua indikator kuantitatif dan kualitatif di atas, maka pesantren di masa mendatang akan semakin diuji nafas panjangnya menghadapi kelindan arus deras perubahan zaman.

Syahdan, apakah pesantren akan sekali lagi berhasil menaklukan ombak besar perubahan, seperti halnya pada keberhasilan awal melewati-arungi era pahit masa penjajahan-kemerdekaan-aras modernitas abad 20 tempo hari, atau mungkin malah akan menunduk takluk di hadapan buldoser revolusi pengetahuan abad 21 yang segala pertarungannya diselesaikan  dengan kemahiran buatan ala intelegensi artifisial?

Menghadapi realitas tantangan tersebut penting kiranya untuk mengutip Wa Aziz dalam salah satu sikapnya yang optimis. Di dalam sebuah riwayat rekaman digital milik putra beliau yaitu Kang Affan, sosok Wa Aziz sempat berkelakar:

“Sakali deui pasantren Sengkahan stabil. Jiga pasantren Wali. Mun kaluar dua, asup dua. Mun kaluar lima, pasti asup lima. Lamun betaheun pasti eweuh nu asup. Jadi teuteup we sakitu.

Janten urang mah teu tergoda. Hartina pasantren Sengkahan masih keneh stabil. Hartina ncan kaleungitan. Sanajan memang angseu krisis santri luar biasa. Solusi nu diambil ku para pasantren ayeuna sakola. Teu aya santri, pasti sakola,teu aya santri, pasti sakola.

Jadi solusi lamun eta siswana cicing di pasantren. Tapi teu jadi solusi lamun eta siswana anggeus sakola balik, anggeus sakola balik”.

Menarik apa yang sebenarnya coba diisyaratkan oleh Wa Aziz tentang pasantren wali. Di tengah realitas perkembangan dunia kepesantrenan yang semakin menantang, terutama berkenaan dengan semakin berkurangnya minat para santri untuk mukim dan mengaji, serta diiringi dengan kebutuhan ekonomi dalam menopang akomodasi dan perangkat aktifitas para guru dan santri, Wa Aziz dengan jernih berhasil mengambil falsafah luhur dari hikmah keseimbangan kehidupan dakwah para wali.

Penamsilan simbol wali yang melekat pada pesantren tidak mungkin diambil sembarang. Jejak besar wali yang dimaksudkan tentu saja adalah kerbekahan para manusia luhur yang hidup di abad ke 14-an, yang nyata-nyata berhasil menjadikan jalur tradisi dan kebudayaan sebagai misi agung penyebaran dakwah keagamaan Islam di nusantara.

Tradisi serta nilai-nilai inilah yang kemudian membekas pada figur Wa Aziz, setidaknya ketika makna kebermanfaatan dirinya bukan sekadar tampak di lingkaran keluarga, tapi bagi para santri serta masyarakat yang lebih luas.

Wa Aziz selayaknya seorang manusia yang lain, boleh saja sangat khawatir dengan kehidupan yang beliau jalani. Terutama dengan kondisi riil dunia kepesantrenan yang kian mendapat ragam ujian, terkait kebutuhan sumber daya manusia maupun ekonomi.

Sakola atau dalam sebutan formalnya adalah sekolah, dalam sementara masa belum menjadi pilihan terbaik bagi sistem yang dipilih oleh Wa Aziz, untuk diajarkan kepada para santri.

Santri bagi Wa Aziz adalah mereka yang hidup selama 24 jam mukim bersama Kiai, menetapi Masjid, meninggali Kobong, mengaji Kitab dan beraktifitas bersama para santri lainnya tanpa henti. Demikianlah kira-kira nilai keidealan yang diimpikan oleh Wa Aziz tentang definisi santri.

Untuk keajegan pilihan Wa Aziz dalam mengambil sistem pesantren non sakola, ada rekam ingatan yang sempat diungkapkan oleh Kang Affan dalam sebuah obrolan malam:

“Jadi ari apa mah kapungkur berpandangan, pondok ieu mah fokus dina kitab kuning, keun nu lain jadi sakola. Pondok ieu mah khusus dina kitab saja”.

Tidak menjadi suatu kemusykilan jika ternyata azzam (tekad) kuat Wa Aziz adalah bukti paling otentik dari 37 tahun masa perjalanan pondok Pesantren Nurul Huda di Sengkahan Kuningan, serta iringan gaung alumni yang menyebar di penjuru tanah-tanah pasundan.

Seperti halnya Gus Dur, maha guru panutan yang merupakan cucu dari Hadratursyaikh Kiai Haji Hasyim Asyári, sosok Wa Aziz juga adalah satu di antara jutaan santri kelana yang dalam hikayat hidupnya tidak menjadikan bangku sekolah sebagai pilihan, melainkan sama-sama menghabiskan waktu sehari-hari untuk belajar agama secara mendalam (tafaqquh fiddin) dengan sifat tulus dan total. Baginya apalah artinya hidup dan menghidupi di dunia kepesantrenan, jika harus mati kutu di hadapan materi, apalagi tanpa memancarkan sekecil-kecilnya pancaran sinar luhur risalah ilahi dan nabi.

Turut memperkuat puncak optimismenya dalam mengawal lahir dan batin pesantren, sekali waktu lainnya Uwa Aziz berujar:

“Pesantren itu ibarat perangkat mati yang tidak bisa apa-apa tanpa kehadiran sosok Kiai. Siapa yang dimaksudkan kiai itu? Ia adalah manusia yang hadir tidak hanya sebagai guru tapi juga sebagai murabbi. Kiai memikirkan santrinya 24 jam, bermanfaat bagi dirinya, santri dan lingkungannya (hal tersebut lebih dari sekadar cukup-red)”.

Tangga Berkah 

Dalam satu panggung yang tidak biasa, Wa Aziz yang di masa akhir amanat kehidupannya turut mengemban sebagai Rais Syuriah PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Kuningan sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kuningan sempat tampil diundang untuk berbagi pengalaman tentang keberhasilan dakwah rahmatan lil alamin. Di hadapan para pejabat, tokoh aristoktrat pada sebuah Talkshow Nasional Indonesia Bersatu di Banjarmasin tahun 2019 itu Wa Aziz menuturkan tentang pentingnya memegang nilai-nilai ajaran islam yang santun dan toleran, sebagaimana nafas yang senantiasa diajarkan di dunia kepesantrenan yang ia jalani.

“Pesantren hidup dikarenakan nilai-nilai yang dipegang oleh kiai dan para santrinya. Nilai-nilai berisikan akhlakul karimah dan etika. Kiai tidak sweeping, tidak cocorongos. Kiai pesantren penuh pandangan perdamaian dan persaudaraan, konsepnya berangkat dari nilai li taárafu (upaya untuk saling mengenal dan memahami)”.

Memperkuat hujjahnya Wa Aziz kemudian kembali mengingatkan tentang prinsip-prinsip universal yang terkandung di dalam nilai dan ajaran keagamaan Islam, seperti sikap tawassuth yang diartikan sebagai amaliyah jalan tengah, tasamuh yang merupakan sikap dan perilaku toleran terhadap orang lain, berlaku I’tidal atau dalam tafsir beliau sebagai panceg, lurus dan proporsional, serta bertawazun yaitu mempertimbangkan nilai keadilan dan keseimbangan.

Qablal akhir. Mengingat kehadiran Wa Aziz sebagai sosok ajengan, kiai, ulama, guru, dan tokoh panutan masyarakat yang meninggalkan begitu banyak jariyah kebaikan ilmu serta amal sekiranya belum dinilai cukup tanpa menyelipkan satu julukan paling fenomenal yang terakhir ini. Apa lagi kalau bukan, Sang Wa Ajengan Yutub.

Betapa membanggakannya bukan memiliki sosok ulama pujaan yang pernah hidup bersama di muka bumi, namun juga memiliki jumlah dokumentasi video digital yang bertebaran banyak di media yutub?    

Kenikmatan ilmu dan amaliyah gerangangan apa lagi yang sejatinya engkau titipkan duhai Uwa? Kuy lah, mari sejenak menyempatkan diri untuk mendaftar kembali warisan digital ngaji kitab ala Wa Aziz di lapak yutub: 1. Pasantren Wali, 2. Kiai Tong Panik Ku Masalah Ekonomi, 3. Muqadimah – Kitab Minhajul Muslim, 4. Akhlak Kepada Allah– Kitab Minhajul Muslim, 5. Akhlak Kepada Muslim – Kitab Minhajul Muslim, 6. Wahdaniyat fil Afál – Ngaji Ilmu Tauhid, 7. Qiyamuhu Binafsihi – Ngaji Ilmu Tauhid, 8. Uzlah – Kitab Hikam, 9. Syarat Mendapatkan Ilmu’’, 10. Peran Pesantren Dalam Merajut Kemerdekaan, 11. Hikmah Ramadhan 32 Episode, 12. Kajian Bidáh 3 Eps, 13. Kajian Hikmah 3 Eps. 14. Kajian Bulanan 3 Eps.

Wal hasil total ada ratusan jumlah video rekam digital uwa aziz yang terdokumentasikan di media ini. Belum lagi dengan generasi bu nyai ajengen yutub dan akang ajengan yutub dari lingkaran keluarga maupun para generasi muda lainnya titisan keluhuran ilmu dari Wa Aziz. Sungguh-sungguh amazing, duh gusti.

Wal akhir, terima kasih uhun Uwa, atas warisan peradaban yang engkau titipkan kepada keluarga, santri dan masyarakat digital saat ini. Segala jariyah kebaikan dari mu, hanyalah zat yang Maha Tinggi Allah Swt semata yang hanya mampu membalas apa-apa yang engkau tinggalkan.

Jika benar bahwa menjaga dan mempertahankan itu adalah hal yang paling sulit untuk dilakoni, maka semoga tertetes pula berkah jariyahmu kepada seluruh generasi santri penerusmu dalam mengemban amanat yang maha beratnya ini.

Ya ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji ila rabbika rhadiyatan mardiyah. Fadkhulil ibad, wadkhulil jannah. Selamat jalan Uwa, selamat berpulang. Engkau tidak pernah pergi, Engkau telah tertinggal di segenap relung hati.

Penulis adalah Divisi Bidang Riset dan Kajian Sosial Keagamaan Gerak Literasi Indonesia