Teatrikal Silat Banten dalam Pentas dan Tarung (Bagian 2)

Sumber Gambar: Liputan6.com

Oleh Rizal Mahadi

Warisan budaya pencak silat Banten sangat terkait erat dengan perkembangan aneka ragam kultur yang dapat disaksikan saat ini. Baik dari kalangan muda hingga tua, pria maupun wanita menggeluti pencak silat. Pada saat yang sama, pencak silat bukan hanya diikuti oleh kalangan masyarakat tertentu yang terkait soal gender dan usia tapi, namun terkait dengan rasa cinta terhadap seni dan budaya.

Kemunculan kata “teatrikal” tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para pembaca. Menurut KBBI Teatrikal dapat di artikan sebagai sesuatu yang berkenaan atau berkaitan dengan sandiwara / teater. teaterikal bukan hanya bela diri saja yang di ajarkan melainkan masih banyak lagi varietas peragaan silat Banten.

Meskipun fenomena ini saling mengisi berbagai kearifan lokal budaya setempat, namun silat Banten memiliki tangkai begitu banyak dengan panorama yang khas dan memiliki nilai dimensi spiritual.

Teatrikal di dalam kancah pencak silat sering di gunakan untuk pementasan dan pertarungan baik di panggung, lapangan maupun gelanggang hijau. Sebuah tarian yang lembut namun mematikan, karena disetiap gerakan tangan ataupun kaki memiliki makna yang berarti, kaidah ini biasa di pakai pada saat pentas seni teater (drama / sandiwara) atau saat ingin bertarung dalam sebuah pertandingan.

Tari-tarian silat sangat berkembang dalam praktik inisiasi di Banten. Beberapa tarian ritual sudah jarang dimainkan, seperti tari kembang kalangan yang dimainkan pada malam sebelum pernikahan atau upacara khitanan. Jika kita melihat kebelakang pada zaman penjajahan, pencak silat sangat berpengaruh dalam melawan para kolonialisme. sebelum Indonesia merdeka, pencak silat sudah berkelana hingga ke peloksok desa, seni tari dalam pencak silat berguna untuk mengelabuhi para penjajah agar mereka tidak curiga bahwa kami sedang melakukan latihan guna melawan para elit penawan.

Bukan hanya di masyarakat jawa saja, silat Banten hadir, akan tetapi di serambi rakyat sunda pun sudah meluas budaya ini. Tari-tarian rakyat sunda yang paling mendekati penca adalah ketuk tilu dan kreasi modernnya, jaipongan dalam bentuk buah kawung (buah aren) dan kembang beureum (bunga merah) yang gerak tubuhnya sangat mirip gerakan-gerakan bela diri silat.

Kedua tarian ini ketuk tilu dan jaipongan, sangat terkenal karena asal muasalnya sebagai tarian saat ritual panen. Meskipun jaipong dan silat adalah suatu kesenian yang berbeda namun kalau di satu padankan akan terlihat indah antara tarian jaipong dengan jurus-jurus silat.

Unjuk kebolehan di pentas silat merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh sebagian penonton, diringi dengan alunan terompet tua dan ketukan-ketukan gendang yang membangun klimaks musik yang dilepaskan secara tiba-tiba oleh pukulan gong, menambah suasana menjadi gemuruh oleh teriakan penonton yang menyaksikan. Pesilat yang sedang pentas pun menjadi bergelora dengan semangat yang berapi-api. Pementasan silat terdiri menjadi tiga bagian : pertama bagian pembuka, kedua bagian tengah lebih lama karena isi dari suatu pementasan, dan yang ketiga bagian penutup. Pesilat menutup pertunjukkan dengan kepalan tangan kanan dalam genggaman telapak tangan kiri, sama halnya saat pembukaan dengan membungkukkan setengah badan sebagai rasa saling menghormati antara pemain dan penonton.

Pertarungan dalam seni bela diri pencak silat dapat kita temui di berbagai macam acara, tapi lebih sering kita jumpai di arena pertandingan atau perlombaan. Banyak teknik pertarungan yang ada dalam pencak silat mulai dari tangan kosong dan koleksi senjata seperti golok, celurit, keris, kujang, toya, dan kipas. Tentunya perlu latihan yang matang untuk bisa menggunakan semua senjata tersebut. Di dalam perlombaan tarung terbagi kedalam dua jenis yaitu tarung ganda dan tarung tunggal. Senjata di pakai identiknya pada saat tarung ganda yang gerak-gerik permainannya telah di setting pada saat latihan, sedangkan tarung tunggal tetap dengan tangan kosong namun masing-masing pesilat di lengkapi body protector (pelindung badan) dan setiap atlet atau pesilat tanding di ukur dengan berat badan lalu di sesuaikan dengan kelas yang telah di tentukan.

Dalam teknik-teknik pencak silat, kemampuan teknis bertalian erat dengan aturan-aturan tata laku: kegigihan kerja, kerendahan hati, penguasaan emosi. Teknik-teknik tersebut menyangkut penguasaan gerakan, keseimbangan, ketepatan, pengaturan kedekatan hubungan antar personal dan hubungan dengan lingkungan fisik. Petarung ganda akan lebih terlihat estetik dan memukau saat bertanding, sehingga para penonton umumnya berteriak histeris melihat golok di leher kemudian di tangkis dan disusul dengan pembelaan oleh lawan mainnya sendiri yang padahal satu team. Beda lagi dengan petarung tunggal yang terlihat agak serius karena yang dicari yaitu point, sasaran yang menjadi goal utama adalah body protector ( pelindung badan ) dan tidak boleh menyerang bagian kemaluan dan kepala.

Sehubungan dengan itu semua baik dari tarian, pentas dan pertarungan seorang pesilat harus berlatih dengan giat dan gigih agar dapat terhindar dari kecelakaan fisik yang fatal saat beraksi di lapangan, teatrikal silat ini sejatinya sudah mendarah daging disebagian pesilat banten, sebagai wujudnya tidak sedikit anak-anak zaman sekarang membuat film pendek yang didalamnya terdapat teatrikal silat yang dikemas sekreatif mungkin.

Penulis adalah mahasiswa Akidah Filsafat Islam Semester 5 Fakultas Ushuluddin UIN SMH Banten