Mistisisme sebagai Ruang Pertemuan antar Agama

Ilustrasi Gambar: ltnnujabar.or.id

Nabila Nur Rahmi
Mahasiswa Program Studi Akidah Filsafat Islam Semester 5 Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Konflik antar agama adalah fenomena berumur setua agama-agama itu sendiri. Meski demikian, cita-cita akan kerukunan umat beragama tak pernah pupus, karena bagi banyak orang penyelamatan umat manusia terletak pada persatuan umat beragama dalam memecahkan persoalan-persoalan fundamental yang bersumber pada materialisme dan ketakberagamaan.

Di atas segalanya, kerukunan umat beragama bukanlah utopia yang tak mungkin diwujudkan, betapapun sulitnya. Lebih-lebih di Indonesia, di mana ada persoalan hubungan antaraumat dua agama besar: Islam dan Kristen. Namun, bagaimana cita-cita besar ini diwujudkan. Umat Islam dan Kristen hendaknya sadar akan pentingnya kehendak yang terkandung dalam perintah Tuhan.

Pemahaman terhadap substansi perintah Tuhan ini tak lain adalah manifestasi iman kita kepada-Nya. Ketika manusia berusaha mewujudkan kehendak Tuhan di atas bumi, tanpa lebih dahulu memahami substansi keinginan-Nya, kondisi tersebut masih terbilang menjauh dari substansi ajaran agama itu sendiri.

Sebagai langkah penting terciptanya kerjasama dalam mewujudkan sikap harmoni dalam keberagaman, kedua belah pihak perlu secara bersama-sama mengoreksi semangat merasa paling benar atau menganggap keliru yang selama ini tergambar dalam benak masing-masing mengenai pemeluk agama lain. Bahwa terdapat perbedaan fundamental antara kedua ajaran agama ini adalah tak dapat dipungkiri. Meskipun demikian, dialog antara kedua pemeluknya semestinya tidak diarahkan kepada perdebatan doktrinal atau melihat dari sisi eksoteris yang selalu berakhir pada jalan buntu atau bahkan saling ejek dan hina.

Ajaran agama diwahyukan Tuhan untuk kepentingan manusia. Dengan bimbingan agama ini diharapkan manusia mendapat pegangan yang pasti dan yang benar dalam menjalani hidupnya dan membangun peradabannya. Dengan lain kata, agama diwahyukan untuk manusia, bukannya manusia tercipta untuk kepentingan agama.

Agama adalah jalan, bukan tujuan. Dengan bimbingan agama itulah manusia berjalan mendekati Tuhan dan mengharap ridha-Nya melalui amal kebajikan yang berdimensi vertikal dan horizontal.

Klaim agama yang begitu ideal secara teologis dan ideologis telah diterima oleh umatnya. Namun, dalam praktiknya, respon seseorang terhadap agama memiliki kecenderungan dengan intensitas yang berbeda. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah kecenderungan, bukan pemisahan. Dalam konteks tersebut kemudian setidaknya terdapat tiga kecenderungan yang mudah diamati, yaitu kecenderungan mistikal, profetik-idologikal, dan humanis-fungsional.

Ketiga hal tersebut merupakan kecenderungan beragama dengan titik tekan pada penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang dianjurkan agama. Pada tipe ini pula, apa yang disebut kebijakan hidup beragama adalah bila seseorang telah beriman pada Tuhan, dan lalu berbuat baik terhadap sesamanya. Sikap toleran dan eklektisisme pemikiran beragama merupakan salah satu ciri tipe tersebut.

Dalam konteks hidup bermasyarakat dan bernegara, tipologi keberagamaan ketiga menekankan orientasi kemanusiaan, perlu mendapat apresiasi dan penekanan. Hikmah hidup keberagamaan haruslah bermuara pada komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tanpa harus dihambat oleh sentimen kelompok keagamaan. Jika memang agama diwahyukan untuk manusia, dan bukan manusia untuk agama, maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah menggunakan standar dan kategori kemanusiaan, bukannya ideologi dan sentimen kelompok.

Caner Dagli telah melakukan penelitian terhadap peran mistisisme Islam dalam dialog antar agama. Hasilnya adalah bahwa dimensi batin tradisi Islam lebih mampu sebagai jalan untuk melakukan perjumpaan antara muslim kristen. Bagi Dagli, orang-orang suci dan para hukama dari masing masing agama tidak hanya mampu berbagi perintah-perintah agung Tuhan untuk saling mencintai-Nya dan mengasihi antar sesama, tetapi juga realisasi praktis dari keberimanan itu. Mistisisme yang mampu memadukan antara teori dan sekaligus praksis dialog muslim kristen. Pendekatan esoteris-mistis dapat mewakili untuk memperbaiki keretakan hubungan muslim dan kristen akibat perbedaan theologis, budaya dan sosial.

Pendekatan mistisisme dalam agama dapat menjadi jembatan alternatif dari pada pendekatan lainnya bagi dialog dan hubungan antar agama dan antar iman, hal tersebut karena keberadaan visi dan watak esoteris mistisme atau sufisme yang lebih menekankan pada peran kalbu. Jalan sufi, jalan mistikal yang lahir dan berkembang dalam setiap agama adalah salah satu ajaran yang dapat diajdikan jembatan untuk dialog dan hubungan antar agama dan antar iman. Sebab hampir semua agama memiliki tradisi mistikal yang nyaris sama.

Sejarah telah membuktikan bahwa mistisme dalam agama-agama lebih toleran, terbuka, dan adaptif terhadap unsur-unsur luar.