Virus yang Mencipta Revolusi

Oleh: Soffa Ihsan

Wabah bisa membuat ‘revolusi’?. Apa iya? Jangan bayangkan dulu seperti revolusi ala Che Guevera, atau revolusi Iran yang merontokkan sistem lama dan membangun sistem baru. Ini wilayah revolusi politik. Tapi revolusi bisa juga menyentuh aspek non politik semisal adanya ‘momentum’ bisa berupa ‘aset baru’ yang terbangun atau—pinjam istilah Karl Mannhem adanya ‘determinasi situasional’ yang merekahkan warsa baru, yaitu perubahan.

Yuk kita tengok-tengok fakta sejarah. Beberapa pagebluk yang tercatat oleh sejarah memiliki dampak revolusioner, seperti jatuhnya sebuah dinasti hingga meluasnya kolonialisme. Sambil contoh skala epidemi yang menghantam Eropa abad pertengahan yang dikenal dengan nama ‘maut hitam’ (black death) yang sangat mengerikan dan menewaskan sepertiga penduduk. Wabah ini berdampak pada runtuhnya sistem feodalisme lama dimana orang dipaksa bekerja untuk membayar sewa terhadap tanah yang mereka tinggali. Hal ini mendorong Eropa Barat menuju komersialisasi dan menjadi lebih modern dengan mengembangkan sistem ekonomi berdasar uang kontan. Bahkan ada pandangan bahwa wabah ini mendorong terjadinya imperialisme yang dilakukan negara-negara Eropa.

Saat Yang Tak Kasat Mata Meneror
Saat covid 19 mendera, kontan ada kebijakan untuk physical distancing dan juga dengan work from home (WFH. Masyarakat yang sudah biasa ngobrol di dunia maya kali saja menjadi tak kaget dengan ketetapan itu. Di negeri kita, sebelum munculnya tehnologi android lewat wujud smarphone canggih, masyarakat cukup pakai ‘getok tular’ untuk berkomunikasi saat ada keperluan. Tapi begitu ‘alat ajaib’ ini ada, masyarakat cukup rebahan untuk berkomunikasi dan juga menyesap berbagai informasi tentang dunia seisinya. Mau pesan makanan, pijat atau lainnya, atau mau diskusi serius atau sekedar alay-alay cukup melototi gadge. Ketika covid 19 menjadi pandemi global, maka ramailah dunia medsos dengan berbagai opini dan wejangan. Tentu ini positif. Beragam ‘resep’ yang diluapkan di medsos akan menjadi pemandu bagi masyarakat agar bisa menghindari virus begajul ini. Sisi lain, lewat medsos pula tersingkap solidaritas sosial untuk saling membantu. Seremoni, perayaan untuk meluapkan rasa iba, empati, bantuan bertalu-talu. Tentu ini wajah indah bagi sebuah negeri yang tengah dilanda teror non-tradisional ini.

Nah, dunia gadge telah melahirkan revolusi. Masyarakat semakin terhubung secara dekat. World is flat, begitu tulis Thomas Friedman, dunia makin mendatar dan mengkerut yang tak terbayang sama sekali sebelum globalisasi yang membawaserta kecanggihan tehnologi. Ya, World Wide Web (WWW) atau kemudian disebut Web mengubah internet menjadi dunia maya ajaib.

Dan kini, begitu ada semburan covid 19, revolusi semakin nyata. Masyarakat seperti dicelikkan dengan situasi adanya ‘musuh bersama’ yang bisa memunculkan panik dan ketakutan, namun juga kesiapsiagaan, opitimisme, solidaritas dan kehesitas sosial yang menggumpal-gumpal. Seremoni yang sepanjang ini digaungkan dan diejawantahkan dalam berbagai kegiatan entah itu kemasyarakatan atau keagamaan, sekarang harus ditunda dan dihentikan. Bahkan untuk sebuah ritual wajib keagamaan seperti shalat jumat perlu berbesar hati untuk mengikuti perintah demi menghalau covid 19. Untuk ramadan tahun ini bisa saja kebijakan untuk meliburkan shalat tarawih dan mungkin juga shalat Id serta mudik lebaran. Bisa saja haji tahun ini akan ditiadakan sementara bilamana ‘virus transnasional’ ini masih menggila. Baru kali ini, ada ‘revolusi’ sedemikian menyolok dan menyentuh pada wilayah yang selama ini ini dianggap ‘sakral’. Saya seumur-umur baru mengalami fakta ini.

Di negeri kita, dengan kian mengganasnya covid 19, telah pula merubah kebijakan pemerintah semisal Ujian nasional (UN) untuk SD, SMP dan SMA tidak diberlakukan. Ini berarti dipercepat yang tadinya hendak diwujudkan 2021. Apalagi buat warga Jakarta yang paling banyak terpapar corona baik pada level Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) akan mendapat perhatian khusus. Kalau warga Jakarta mudik, bisa-bisa masyarakat daerah akan tertular. Karenanya bisa jadi masyarakat daerah akan resistensi terhadap siapapun khususnya warga Jakarta yang mudik ke daerahnya.

Teror Virus Idiologi
Serangan virus yang hanya berdiameter antara 120 hingga 160 nanometer dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron ini telah mencipta revolusi. Katakanlah semacam ‘bioterorisme’ yang tengah memporakporandakan segala aspek kehidupan berskala mondial. Sekarang, mari kita nisbahkan dengan kasus lain. Saat terjadi bom pesawat melantakkan WTC di New York pada 11 September, masyarakat dunia tetiba harus berpanik-panik. Lalu melahirkan slogan ‘perang melawan terorisme. Ini memang serangan teror terbesar sepanjang masa. Terorisme memang sudah semenjak lama terjadi. Tapi serangan teror yang satu ini bersifat spektakular telah membuat masyarakat dunia harus mengubah taktik dan strategi dalam menghadapinya.

Yah, dengan serangan ini telah mencipta revolusi. Pandangan terhadap teror berubah serentak. Teror tak lagi berskala kecil, tapi mereka yang menerjuni dunia teror itu telah semakin canggih. Secanggih tehnologi yang mampu ‘ mendigitalisasi’ manusia yang merubah banyak hal. Terorisme kemudian telah bermetamorfosa menjadi sebuah ‘network’ yang rapi jali dan mewujud dalam bentuk ‘francise’. Al-Qaeda yang menjadi pemain utama dalam teror besar ini telah membentuk sebuah ‘korporasi multinasional’ yang melebarkan sayap perusahaannya di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia yang melahirkan jaringan dan sel-sel al-Qaeda melalui Jamaah Islamiyah (JI) dan terbukti telah menularkan ‘virus’ idiologinya serta melakukan amaliyat teror yang menggegerkan.

Tak pelak, fakta teror ini telah meluapkan perubahan cara pandang dan tindakan dalam menanggulangi terorisme. Hingga kinipun disaat corona merajai teror, di Batang, Jawa Tengah barusan berselang ada penangkapan dan penembakan terhadap 3 terduga teroris. Penangkapan itu menyertakan beberapa bukti 4 dus berisi bahan peledak, paralon, samurai dan beberapa buku keagamaan. Entah apa yang ada di benak terduga teroris ini, apa mau melakukan aksinya ditengah suasana berkabung masyarakat melawan corona.

Sebagaimana pula gegeran munculnya ‘kekhalifahan ISIS’ yang dideklarasi 2014. Ini juga telah mencipta revolusi. Dengan hipnosa yang dibalut keagamaan yang kental, ISIS telah menaklukkan banyak muslim di berbagai belahan dunia. Nyaris banyak negara yang kecolongan warga negaranya datang dengan penuh militan ke Suriah demi berperang atau hasrat hidup dalam suasana kekhalifahan yang apolaptik ini. Paska terbongkarnya borok kekhalifahan abal-abal ini, banyak negara yang memikul beban oleh kedatangan eks Suriah ke negaranya masing-masing. Pada masyarakat masing-masing negara yang terlimpahi eks Suriah menjadi cemas akan menularnya ‘ virus ekstrimisme’ ke masyarakat. Para eks Suriah ini bisa jadi adalah ‘carrier’ yang membawa kuman ekstrimisme dan lalu menyuntikkan pahamnya di tengah masyarakat. Ini persis dengan fakta satu daerah di negeri kita yang satu warganya terkena covid 19, masyarakat menjadi was-was dan Pemda pun bertindak mengkarantina. Wajar ada ketakutan seperti ini ditengah situasi pandemi global covid 19 maupun ISIS yang telah banyak bikin kalang kabut warga dunia.

Ya, revolusi yang terlahir dari kekhalifahan ISIS ini makin membuat banyak muslim yang terpagut oleh mimpi tentang ‘Bumi Syam’. Revolusi juga telah merubah cara pandang tentang terorisme global yang ternyata tak hanya alasan ‘politik’ belaka, tetapi juga akibat pemahaman keagamaan. Agama telah menjadi ‘pemicu’ untuk melakukan tindakan diluar kewarasan. Agama yang mengajarkan kebaikan dan kasih sayang ‘direvolusi’ oleh para pemabuk teror untuk menjadi kekuatan yang menumpulkan nalar masyarakat demi mesianisme dan utopia.

Hadirnya ISIS yang hingga kini masih bergerak serta terus menularkan idiologi serta aksinya ke masyarakat dunia, telah juga ’merevolusi’ cara pandang terhadap terorisme. Terorisme ternyata tak hanya ‘isapan jempol’. Ia nyata dan telah banyak bukti aksi-aksi brutalnya sebagaimana dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Paham ISIS dan juga kelompok-kelompok ekstrim lainnya yang masih bercokol di negeri kita masih menjadi ‘wabah’ yang setiap saat bisa menjangkitkan pahamnya ke masyarakat serta beraksi kembali. Yang sulit didetek ketika virus ekstrem itu ditularkan secara diam-diam lewat berbagai cara. Kebijakan apa yang bisa dilakuakan apakah lockdown atau physical distancing, atau penyemprotan disinfektan?

Virus ekstremisme ini sama saja dengan corona dalam penularannya. Bila tertular corona, seseorang tiba-tiba jatuh sakit dan terkapar. Tapi ternyata tidak semua dengan indikasi itu. Bisa saja terlihat sehat bugar, namun setelah diperiksa secara medis terbukti terpapar covid 19. Begitupun dengan ‘virus ídiologi’ berwujud ekstrimisme ini. Secara fisik tampak tidak menunjukkan terpapar. Namun mendadak dia melakukan aksi baik berupa ujaran kebencian dan bahkan tindakan brutal. Kasus seperti ini sudah sering terjadi. Seperti seorang remaja yang dikenal baik-baik, tak dinyana dia melakukan serangan ke kantor polisi. Atau seorang deportan yang sudah dikarantina selama satu bulan untuk direhabilitasi, sekeluarnya malah menjadi bomber di sebuah gereja di Jolo, Filipina.

Menyikapi secara Seimbang
Covid 19 maupun ISIS adalah dua wabah yang tengah meneror dunia. Saat ini, pemerintah dan masyarakat lebih fokus dalam penanganan covid 19 yang memang sangat krusial. Hal-hal yang berkait ekstrimisme ‘dibungkus’ dulu. Namun ini tentu tidak dilupakan dan diwaspadai. Aparat dan pihak terkait dengan penanggulangan ekstrimisme tetap siaga untuk menghadapi aksi-aksi ekstrim.

Ditengah teror corona, ada persoalan yang masih mengganjal, yaitu bagaimana dengan WNI eks Suriah yang kini sudah kembali di negeri kita. Sebagian besar sudah menyadari kekhilafannya. Mereka silap atas kekhalifahan semu yang sempat menyirap-nyirap benak mereka. Ratusan WNI eks Suriah yang kini tersebar di Depok, Bogor, Bekasi, dan beberapa daerah lainnya. Ada memang yang ‘mengisolasi diri’, tapi untuk sementara. Ada yang menyibukkan diri dengan bisnis, kuliah dan juga menganggur.

Mereka sepatutnya tidak mutlak-mutlakan diperlakukan selayak ‘corona’ yang bisa menginfeksi pada orang lain. Memberlakukan pasien corona nyaris mirip dengan para returnis ini. Ketika mereka pulang ke bumi pertiwi, mereka sudah ‘dilockdown’ di sebuah tempat khusus untuk tujuan deradikalisasi. Setelah dipandang ‘sembuh’ mereka dipulangkan ke rumahnya masing-masing. Dan juga mereka masih terus dalam pengawasan dan pemantauan.

Terhadap pasien covid 19 masyarakat diminta untuk bersikap wajar, dengan tidak bersikap semena-mena, karena yang terpenting pencegahan individu masing-masing. Demikian halnya sikap terhadap para eks WNI eks Suriah yang sudah kembali hidup di Bumi Pertiwi ini selayaknya masyarakat juga dituntut untuk adil dan tidak lalim. Tak syak lagi, disinilah perlunya ‘sikap revolusioner’ yang elok nan apik untuk tetap mampu membangun keharmonasan sosial ditengah amuk dua wabah imporan tersebut.

Penulis adalah Marbot di Lembaga Daulat Bangsa (LDB) dan Rumah Daulat Buku (Rudalku).